Monday, February 18, 2008

Alamat Baru

Sejak Feb 2008 sy punya rumah baru. Silakan kunjugi. Alamatnya http://zulmasri.wordpress.com Terima kasih
Posted by Zulmasri at 19:20:02 | Permanent Link | Comments (0) |

Friday, February 08, 2008

Ruang Jurnalistik Sekolah

MERANCANG PENERBITAN SEKOLAH
Oleh: Zulmasri



Apa yang Kamu ketahui bila mendengar istilah jurnalistik? Kata-kata yang asingkah? Padahal dalam kehidupan sehari-hari setiap saat kita senantiasa bersentuhan dengan dunia ini. Berbagai pesan, kabar, berita, atau apapun bentuknya, yang intinya adalah catatan-catatan untuk dikomunikasikan.
Istilah jurnalistik sendiri berasal dari bahasa Prancis, journal, yang berarti catatan harian. Dalam buku yang ditulisnya, Bambang Trimansyah mengatakan bahwa secara ringkas jurnalistik bisa diartikan sebagai kegiatan pencatatan atau pelaporan dan penyebaran berita tentang kejadian sehari-hari.
Tentu saja di sini ada pelapor agar berita itu sampai kepada orang lain. Tugas ini dilakukan oleh orang yang kita sebut sebagai wartawan. Ada juga yang menyebutnya jurnalis (berasal dari bahasa Inggris, journalist). Mereka inilah yang menggali informasi/berbagai kejadian dan melaporkannya kepada kita.
Lalu apakah semua kabar/berita yang disampaikan itu sudah bisa disebut sebagai kegiatan jurnalistik? Misalnya saja Kamu melihat ada tetangga kamu kemalingan, dan kamu melihat serta melaporkannya kepada pihak berwajib. Sudahkah kamu disebut jurnalis?
Jawabnya belum bisa disebut jurnalis. Alasannya kamu belum mempunyai media penyampai. Jadi, faktor media amat penting dalam kegiatan jurnalistik. Laporan yang disampaikan harus dituangkan ke bentuk media: tertulis (surat kabar dan majalah), lisan (radio), audiovisual (televisi). Ada pula yang membagi media ini dalam kelompok media massa (surat kabar dan majalah) serta media elektronik (radio, televisi, internet).

Penerbitan Media di Sekolah
Media sebagai sarana penyampai dalam dunia jurnalistik di sekolah khususnya bisa berbentuk tulisan ataupun elektronik. Media yang lazim dan dengan biaya murah bisa ditemukan dalam bentuk tertulis. Setidaknya ada 3 macam media yang digunakan sebagai penyampai informasi, yakni majalah dinding, buletin, dan majalah sekolah.

A. Majalah Dinding
Pernah membuat majalah dinding? Majalah dinding yang memang menempel di dinding adalah salah satu bentuk kegiatan jurnalistik. Media ini boleh jadi bentuk kegiatan jurnalistik yang paling sederhana. Pembuatannya tidak terlalu rumit dengan materi yang juga sangat terbatas. Biasanya, media ini kita temukan di sekolah, mesjid, atau pun kampus perguruan tinggi.
Sebuah majalah dinding yang baik haruslah memenuhi standar. Dalam berbagai kegiatan lomba majalah dinding (biasa disingkat mading), tingkat standardisasi inilah yang menjadi acuan.
Pada waktu mesin ketik atau komputerisasi belum semarak sekarang, majalah dinding dikerjakan dengan menggunakan bentuk tulisan tangan. Para penulis yang bentuk tulisannya bagus menjadi penulis andalan dalam pengerjaan majalah dinding. Akan tetapi, kalau dalam ajang lomba ada yang mengatakan bahwa sebuah majalah dinding harus menggunakan tulisan tangan, maka pemikiran seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Majalah dinding sebagai sarana komunikasi harus bisa mengikuti perkembangan teknologi, termasuk tidak diharamkannya penulisan majalah dinding dengan sistem komputerisasi.
Sebagaimana halnya surat kabar, majalah dinding perlu ditata agar terlihat menarik. Penulisan dengan menggunakan kolom-kolom seperti surat kabar memungkinkan akan lebih menarik ketimbang menulisnya tanpa kolom. Untuk berikutnya juga ditata penempatan dari bagian-bagiannya.

Bagian-bagian Majalah Dinding
Sebelum penataan bagian-bagiannya, terlebih dahulu kita lihat dulu bagian-bagian (isi) sebuah majalah dinding, khususnya yang diterbitkan di sekolah. Bagian-bagian itu secara lengkap adalah sebagai berikut:
1.   Nama majalah dinding, lengkap dengan motto/visinya, alamat dan nomor edisinya.
2.   Redaksional
3.   Daftar isi
4.   Pengantar Redaksi
5.   Tajuk rencana
6.   Berita sekolah
7.   Reportase
8.   Feature
9.   Karya sastra (cerpen, cerber, puisi, pantun, dsb)
10. Artikel, tips, dsb
11. Opini
12. Pojok
13. Kartun, karikatur, ilustrasi, vignyet, foto-foto, gambar

Nama sebuah majalah dinding ditentukan dalam rapat redaksi. Redaksi merupakan orang-orang yang berperan dalam pembuatan majalah dinding. Apabila nama mading sudah ada, diikuti kemudian dengan motto/visi majalah dinding tersebut. Penetapan nama majalah dinding bisa dilakukan dengan melibatkan pembinanya.
Sebelum mengerjakan majalah dinding, terlebih dahulu juga harus dipikirkan peralatan/bahan yang dibutuhkan. Peralatan/bahan harus disediakan sejak awal dan disimpan rapi. Dalam hal ini termasuk terbitan-terbitan yang sudah dihasilkan, harus diarsipkan secara rapi.
Peralatan/bahan yang diperlukan dalam membuat majalah dinding adalah sebagai berikut:
1.  Tempat/box penempatan majalah dinding
2.  Kotak karya, untuk menaruh karya para siswa yang ingin dimuat di majalah dinding
3.  Kertas landasan, biasanya manila putih atau berwarna, dengan ukuran 110 X 80 cm. Bisa pula menggunakan kertas asturo.
4.  Kertas HVS (sebaiknya berwarna, bisa pula menggunakan kertas asturo)
5.  Spidol ukuran besar dan ukuran biasa
6.  Pensil dan penghapus
7.  Lem
8.  Gunting, pisau cutter
9.  Penggaris panjang dan pendek
10.Komputer dengan tinta warna

Redaksional
Sebuah majalah dinding akan berjalan lancar apabila mempunyai awak redaksi yang benar-benar menyukai kegiatan tulis-menulis. Di samping peran pembina dalam menyemangati dan membimbing para siswa amat penting. Secara umum redaksional meliputi:
Pimpinan Umum (biasanya kepala sekolah)
Pembina/Penanggung Jawab (biasanya guru yang mengenal seluk-beluk jurnalistik)
Pimpinan redaksi
Wakil Pimpinan Redaksi
Sekretaris Redaksi
Redaksi/Reporter
Penata Letak

Berikut penjelasan tugas masing-masingnya (di luar pimpinan umum dan pembina):

Pimpinan Redaksi
Bertanggung jawab terhadap kerja suatu penerbitan
Melakukan koordinasi dalam perencanaan penerbitan majalah dinding
Melakukan konsolidasi dengan pembina tentang kebutuhan dan kesulitan dalam penerbitan
Mengatasi dan mencari pemecahan masalah yang dialami tim redaksi
Memimpin rapat redaksi

Wakil Pimpinan Redaksi
Menggantikan tugas pimpinan redaksi apabila berhalangan
Membantu pimpinan redaksi dalam pengecekan kelengkapan penerbitan

Sekretaris Redaksi
Mengelola administrasi keredaksian (surat-menyurat, honorarium, biaya operasional redaksi)
memeriksa kesiapan redaksi
mempertanggungjawabkan administrasi kepada pimpinan redaksi


Reporter/Redaksi
Melakukan reportase (peliputan) sesuai dengan kebijakan redaksi
Membuat tulisan dari liputan dan diselesaikan sesuai dengan tenggat (deadline) terbit
Mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada pimpinan redaksi


Penata Letak
Merencanakan tata letak visual teks dan gambar media
Menata letak teks dan gambar sesuai dengan kebijakan redaksi
Mempertanggungjawabkan hasil kerjanya pada pimpinan redaksi

Selain bagian-bagian dari suatu redaksional seperti yang dikemukakan di atas, masih ada bagian-bagian lain yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari media bersangkutan, misalnya fotografer, ilustrator, distributor (untuk majalah sekolah), dsb.

B. Buletin
Membuat buletin juga membutuhkan keahlian dalam merancang bentuknya. Buletin bentuk media tulis yang bisa dibawa dan dibaca di tempat yang kita suka. Hal ini berbeda dengan majalah dinding yang menempel di dinding.
Munculnya teknologi komputer mempermudah dalam merancang bentuknya. Beberapa program seperti microsoft word, coreldraw, photoshop, dan sebagainya bisa dimanfaatkan.
Isi buletin hampir sama dengan majalah dinding. Selain itu nama buletin dan redaksionalnya perlu dicantumkan. Apabila menggunakan microsoft word, gunakan bentuk tulisan columns dan pinggirnya diberi hiasan bingkai.

C. Majalah Sekolah
Membuat majalah sekolah gampang-gampang mudah. Yang dibutuhkan di sini adalah keseriusan dan dukungan finansial dari sekolah. Untuk majalah sekolah yang sederhana, sampul (cover) bisa menggunakan hasil sablonan, sedangkan isi dalamnya bisa difotokopi.
Namun bila menggunakan bentuk yang lebih luks, bisa menggunakan percetakan/offset. Namun untuk ini dibutuhkan biaya yang lebih mahal.
Isi dari majalah tidak berbeda jauh dengan majalah dinding. Selain itu juga diperlukan redaksional. Khusus untuk majalah (dan buletin) diperlukan editor yang lebih teliti dan bisa diambilkan dari Bapak/Ibu Guru, karena beredar di luar sekolah.

Talun, Agt 2006
Zulmasri, guru Bahasa dan Sastra Indonesia/pembina jurnalistik

Posted by Zulmasri at 16:58:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Saturday, January 05, 2008

Ruang Cerita


CERPEN 1

Kidung Sunyi Seorang Guru
Cerpen: Zulmasri
.....................................................................................................................

Astri yang baik,
Surat ini kutulis saat mataku tak mampu terpejam dalam lena, meski malam telah merambat jauh. Keadaan yang menggelisahkan. Saat-saat yang tidak kumengerti, walau sering terjadi. Aku tidak tahu apakah ini semacam penyakit atau bukan. Beberapa kali aku berpikir untuk memeriksakan diri ke dokter. Di pihak lain kadang aku juga merasa ingin menemui psikiater. Namun semua itu tidak sempat aku lakukan tatkala pagi datang menjelang, dan aku mesti bersiap memasuki gerbang sekolah tempat aku mengajar.
Barangkali aku memang salah memasuki dunia tempat aku bekerja sekarang ini. Bahtiyar, teman sekerjaku mengatakan bahwa tempatku bekerja mestinya tidak di dunia yang terpencil. Duniaku menurutnya berada di perkotaan, bukan dunia sunyi, jauh nun di pelosok yang hanya bisa bertemankan sapi, kerbau, bau sawah dan ladang, serta masyarakat yang belum mengenal jauh dunia informasi.
Seperti surat-suratku yang dulu, aku tidak tahu, adakah surat ini sampai ke tanganmu. Namun aku tak pernah mampu menolak kekuatan dalam diri ini untuk mendiamkannya begitu saja. Aku mencintaimu dan ingin menceritakan keluh-kesahku.
Ada di manakah engkau sekarang?
Seperti hari-hari sebelumnya, aku menyelesaikan pekerjaan sebagai guru sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setelah itu aku pulang ke rumah kost, makan siang dan istirahat sambil menonton televisi. Televisi, satu-satunya dunia hiburan dan informasi paling canggih di tengah masyarakat aku berada.
Kehidupan monoton, itulah dunia yang kualami sehari-hari. Betapa inginnya hari-hari kulalui bersamamu. Hidup berumah tangga, membina kasih sayang hingga anak-anak kita lahir. Namun keinginan itu barangkali tinggal keinginan. Ada gamang bermain. Mungkinkah engkau mau kuajak ke tempat kerjaku sekarang? Mendampingiku bekerja sebagai guru di sebuah pelosok yang sulit dijangkau?

***

Astri,
Pertama kali menginjakkan kaki di daerah tempat aku sekarang bekerja sebagai guru, aku langsung dirundung beragam kesangsian. Adakah aku bisa berada di dunia yang jauh dari hingar-bingar tempat aku sebelumnya berada? Adakah dunia yang penuh keriangan dalam irama belajar anak-anak desa bisa membuat aku betah?
Untuk mencapai daerah Kidung – demikian nama daerah tempat aku bekerja – membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Dari kota kabupaten aku naik ojek sejauh 30 kilometer, memasuki daerah pebukitan dengan aspal  tipis penuh lubang. Setelah itu aku mesti berjalan kaki melewati kali. Dari kali berjalan kaki sejauh 4 kilometer naik turun daerah bebukitan hingga akhirnya aku tiba di sebuah desa yang dihuni sekitar 95 KK. Di tengah-tengah desa itu berdiri sebuah bangunan SD, yakni tempat aku mengajar sekarang ini.
Aku tidak habis pikir mengapa aku ditempatkan di daerah seperti ini. Selain itu banyak tanya bermunculan di kepala. Bagaimana bisa pemerintah membangun sekolah di daerah seperti ini tanpa fasilitas jalan yang memadai untuk bisa sampai di tujuan? Adakah pemerintah kabupaten atau mereka yang bekerja di dinas pendidikan di ibukota kabupaten sana pernah berkunjung, menyaksikan langsung situasi yang ada?
Aku kemudian berkenalan dengan Pak Joko, Kepala Sekolah dan atasanku yang baru. Dari Pak Joko aku kemudian mengenali lebih jauh suasana tempat aku bekerja. Pak Joko kemudian memperkenalkan aku dengan guru-guru lainnya, yang ternyata rata-rata memiliki kegiatan yang sama: pagi mengajar, siang sampai sore bertani di sawah atau ladang.
“Pak Akmal sudah beristri?” tanya Pak Joko saat berkenalan.
“Belum, Pak,” jawabku sambil mengingatmu sekilas.
“Cepat beristri, biar kerasan tinggal di desa ini. Cari saja perempuan di sekitar sini. Yang cantik banyak,” ujar Pak Joko.
Aku hanya tersenyum dan tidak menanggapi guyonan sang kepala sekolah. Namun setelah berkenalan lebih jauh dengan keluarga guru-guru dan kepala sekolah, aku menjadi kaget. Ucapan Pak Joko ternyata bukan guyonan. Rata-rata guru yang mengajar di sini beristrikan perempuan yang berasal dari desa ini. Hanya beberapa guru perempuan yang tidak bersuamikan orang-orang desa.  Astri tercinta,
Ingin sekali aku mengajakmu ke sini. Membina rumah tangga sambil melakukan kegiatan seperti penduduk desa. Kita beternak sapi di sini, membuat kolam ikan, dan turun ke sawah bersama-sama setelah aku selesai mengajar. Tapi adakah hal itu mungkin kita lakukan? Aku sangsi dengan telapak tanganmu yang halus itu.

***

Astri sayang,
Beberapa hari ini aku dilanda kegelisahan luar biasa. Rasa gelisah yang muncul dari pertentangan hati nurani dan kondisi yang ada. SK pengangkatanku sebagai guru PNS baru saja kuterima. Beberapa bulan lalu, Pak Joko baru saja dimutasi dan digantikan kepala sekolah yang baru. Namanya Pak Sodikin. Baru tiga bulan sebagai kepala sekolah, semua guru dan staf tata usaha menjadi gerah.
Masalahnya sederhana. Pak Sodikin dalam mengelola keuangan sekolah tidak setransparan Pak Joko. Dana BOS yang diterima sekolah, kabarnya sekian persen dipotong dan masuk ke kantong pribadinya. Alasannya untuk proses pencairan yang membutuhkan dana besar. Padahal setahuku, dana BOS dicairkan di BRI kecamatan, yang jaraknya sekitar 7 kilometer dan tidak membutuhkan biaya banyak.
Itu hanya salah satu yang membuat aku tidak lagi merasa enjoi bekerja. Seharusnya semua itu tidak menjadi urusanku. Tapi ternyata nuraniku tidak bisa membiarkannya.
Dua bulan lalu misalnya, sekolahku mendapat bantuan dana rehab 50 juta rupiah. Namun dari informasi yang diberikan Pak Dulawi – bendahara sekolah – dana yang ia pegang hanya 30 juta. Yang 20 juta sudah habis di tengah jalan. Memberikan persenan untuk orang-orang di dinas pendidikan kabupaten, persenan untuk orang-orang di kecamatan, persenan untuk konsultan, dan sisanya masuk ke kantong kepala sekolah. Persenan diberikan guna memperlancar proses bantuan berikutnya. Artinya, kalau ada bantuan lagi maka SD tempat aku mengajar akan mendapat prioritas. Mengapa mendapat prioritas? Karena sang kepala sekolah loyal memberikan persenan kepada atasannya, dan prioritas sekolah yang mendapat bantuan biasanya ditentukan oleh atasan tersebut.
Seperti hukum dagang, tawar-menawar. Tapi begitulah yang terjadi. Dari bendahara sekolah kemudian aku mendapat gambaran lain yang membuat aku tercengang. Betapa kebocoran dana terjadi di sana-sini. Betapa pemberantasan korupsi dan manipulasi hanya menjadi retorika saja.
Pada saat keuangan sekolah diperiksa oleh bawasda misalnya, semua berjalan mulus. Kuitansi dan nota siluman menyelamatkan laporan-laporan yang dibuat. Selain itu pada saat pemeriksaan, orang-orang bawasdanya pun dijamu sedemikian rupa di rumah makan mewah di ibukota kabupaten. Saat perjamuan selesai, lembaran-lembaran rupiah pun diselipkan di kantong mereka. Na’uzubillah. Bagaimana tidak akan lolos kalau pemeriksaan yang dilakukan seperti itu.
Astri yang baik,
Ada lagi hal lain yang membuatku semakin gerah, meski udara pebukitan sering membuatku mengigil.
Belum lama sekolahku mengadakan ulangan semester. Kebetulan di tempatku sudah melaksanakan kurikulum terbaru, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tapi apa yang terjadi? Saat ulangan semester akan berlangsung, soal ulangan harus sama yang dikelola langsung oleh para kepala sekolah, yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa soal ulangan dibuat sama untuk semua sekolah yang ada. Kalau ada 250 SD di kabupaten maka soal yang diujikan sama. Setahuku, ulangan mestinya dibuat dan diserahkan kepada guru di sekolah masing-masing. Dari Pak Kabul, temanku, aku menjadi mengerti, bahwa keuntungan penggandaan soal apabila dikumpulkan semua, bisa membeli 3 mobil pribadi. Luar biasa.
Kadang aku berpikir untuk berhenti saja menjadi guru. Terus terang aku muak menyaksikan semua itu. Namun pada saat aku masuk kelas, keinginan berhenti menjadi guru sirna begitu saja. Berada di depan anak-anak terasa sangat menyenangkan. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka dan dunianya.

***

Astri sayang,
Betapa banyak yang ingin kuceritakan padamu. Tapi kadang aku malu menyampaikannya. Rasanya semua hanya keluhan saja. Padahal aku ingin membuat cerita yang manis. Cerita yang katamu dulu sangat kamu sukai. Cerita-cerita tentang sepasang angsa di taman, lengkap dengan kolam ikan dan rumah impian, sebagaimana yang pernah ditulis penyair Eka Budianta. Aku juga ingin bercerita tentang gadis desa, tetangga sebelah, yang sering mencuri-curi pandang padaku. Atau cerita tentang pertengkaran kecil di kelas saat ada anak-anak saling mengolok temannya. Namun semua itu tidak lagi mampu kutulis. Berbagai beban sebagai guru, pendidik masyarakat, penentu nasib bangsa di masa depan, semua menjadi tidak bermakna di saat penyelewengan-penyelewengan begitu kental di hadapan mata. Dan aku tidak kuasa menghadapinya.
Namun jauh di pelosok desa, ingin kukabarkan, betapa aku merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu?


Pekalongan, Juni 2007     


Biodata

Zulmasri, lahir di desa Padang Panjang, Kambang, kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat pada 11 Januari 1971. Mulai menulis dan mempublikasikan karya di media massa sejak kelas III SMP. Menyelesaikan S1 tahun 1996 di Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, dengan skripsi yang berjudul Citra Kemiskinan dalam Cerpen Joni Ariadinata, Tinjauan Sosiologi Sastra.  

Karya-karya berupa puisi, cerpen, kolom, ulasan sastra, film, dan teater, resensi, dan tulisan lainnya dimuat di media massa terbitan Padang (Harian Singgalang dan Haluan), Jakarta (Republika, Swadesi, Annida, Ceria Remaja, Aneka, Anita Cemerlang), Medan (Taruna Baru), Riau (Riau Pos), Semarang (Suara Merdeka), Yogyakarta (majalah Gerbang), dan Kuala Lumpur (Berita Harian).

Beberapa puisi menang dalam lomba dan dibukukan dalam antologi, di antaranya Taraju ’93 (1993), Sahayun (1994), Poeitika (1994), Hawa 29 Penyair (1995), dan Antologi Puisi Indonesia (1997). Menjadi Pembina jurnalistik/sastra di SMP Al-Irsyad (1999-2005), SMA Al-Irsyad (2002-sekarang), SMP Negeri 2 Talun (2005 s.d. sekarang). Saat ini mengajar dan membina jurnalistik di SMP Negeri 2 Talun dan SMA Al-Irsyad Pekalongan.

Alamat
Email: mastermasri@yahoo.co.id
Web: http://masterzulmasri.blog.com
Telp (hp): 085642638639




CERPEN 2


TEMPAT YANG SEJUK DAN TENANG

Cerita Pendek: Zulmasri



LAKI-LAKI itu pulang dalam keadaan mabuk. Ia sempoyongan berjalan. Dari  mulutnya terdengar nyanyian kacau. Bau minuman keras menyengat  di sepanjang jalan yang ia lalui.
Hari telah larut malam. Tidak banyak yang lalu lalang di jalanan. Yang melintasi jalanan itu pada umumnya membawa persoalan sendiri-sendiri, di samping tingkah laku yang tersendiri pula. Ada yang juga mabuk, seperti lelaki itu. Ada yang normal, berjalan pelan atau tergesa-gesa. Ada pula yang jalan tidak tentu tujuan, sekadar menghabiskan malam. Memang, kota itu tak pernah sepi, walau malam telah merambat jauh.
    Laki-laki yang pulang dengan keaadaan mabuk itu akhirnya terkapar di pinggir parit, setelah terlebih dahulu terperosok jatuh. Tubuhnya menggelinding sebentar, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Tidak ada yang memperhatikannya. Mereka yang kebetulan lewat dan melihat  pun berlagak acuh tak acuh.
    Masih hidupkah ia ?
    Tak ada yang mempersoalkannya. Namun ketika tubuhnya benar-benar kaku dan tidak bernyawa keesokan harinya, barulah seluruh penghuni kota itu gempar.
    “Ada orang mati di selokan,” kata sebuah suara.
    “Ya, ada orang mati. Kabarnya penduduk kota ini,” ujar suara yang lain.
    “Ia laki-laki yang suka mabuk,” timpal yang lainnya.
    “Tapi kabarnya ia seorang yang amat berjasa terhadap kota ini,” balas suara yang lainnya lagi.
    Pagi itu seluruh kota memang gempar. Kesedihan terpancar dari setiap wajah. Warna kota yang biasanya cerah berubah muram. Angin bertiup lembut. Cahaya matahari memancar aneh dan redup. Awan hitam berarak bergumpal-gumpal di atas langit.
    Di bar, tempat lelaki itu biasa minum, juga dipenuhi warga. Mereka ingin tahu bagaimana kisah laki-laki itu pada malam terakhir ia mabuk hingga meninggalnya. Pemilik bar – seorang laki-laki setengah tua – terlihat letih dan agak gusar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datangnya bertubi-tubi. Entah sudah berapa kali ia mengulang cerita yang sama kepada pengunjung yang datang silih berganti.
    Selain letih dan gusar dengan pertanyaan-pertanyaan para pengunjung, pemilik bar itu juga teringat dengan hutang laki-laki pemabuk itu. Ia tahu persis, berapa jumlah hutangnya, lantaran lelaki pemilik bar itu sendirilah yang biasanya  melayani laki-laki tersebut.
    Akan tetapi, laki-laki pemabuk itu telah meninggal sekarang.
    Dan sepertinya pula, lelaki pemilik bar itu merelakan hutang dari laki-laki pemabuk tersebut.
    Walikota sendiri yang memimpin upacara kematian pada siang itu. Ia menyatakan bahwa hari itu adalah hari berkabung bagi seluruh kawasan kota yang ia pimpin. Kepada para penduduk diperintahkan untuk menaikkan bendera setengah tiang.
    Jalan-jalan yang biasanya bising oleh arus kendaraan lalu lintas, pada hari itu tidak terlihat satu pun. Seluruh warga kota tumpah ruah menuju rumah almarhum. Karangan bunga dan ucapan belasungkawa berdatangan dari berbagai penjuru. Dengan kesedihan luar biasa, akhirnya almarhum dibawa ke rumah kediaman walikota, yang halamannya cukup luas dan bisa menampung banyak orang.
    Warga kota yang tadinya tumpah ruah ke rumah almarhum, bergerak mengerumuni ruangan dan halaman kediaman walikota. Suara tahlilan terdengar di sana-sini. Suara bisik-bisik pun bercampur aduk dengan pembicaraan sekitar almarhum semasa dia hidup. Mereka kembali mengenang almarhum dengan segala sepak terjangnya terhadap kota. Mereka kembali membicarakan jasa-jasa almarhum terhadap kota yang sekarang berdiri megah.
    Semua warga kota memang larut dengan kesedihan itu. Seorang hero telah berpulang. Seorang yang dengan gagah beraninya berhasil menghalau musuh dengan ketelatenannya memimpin pasukan. Seorang yang kemudian menjadi konsepsioner dalam menata dan membangun kota hingga semegah sekarang.
    Hanya ada dua orang saja yang tak ikut larut dengan suasana duka itu. Seorang kakek dan seorang nenek yang rumahnya persis berada di samping rumah almarhum. Mereka hanya tinggal di rumah, tidak ikut-ikutan bergabung, sambil mengintip suasana yang sedang berlangsung.
    “Akhirnya ia pergi juga,” kata si kakek.
    “Ya,” ujar si nenek pula. “Akhirnya ia meninggalkan kita.”
    “Itu sangat baik bagi ketentraman kita, karena mulai hari ini tak akan ada lagi suara gaduh antara kita dan dia.”
    “Juga tak akan ada lagi suara-suara kacau yang keluar dari mulutnya.”
    “Termasuk nyanyian-nyanyian yang tak teratur ketika ia mabuk.”
    “Ya. Juga bantingan pintu di tengah malam buta.”
    “Dan jangan lupa hutang-hutangnya pada kita.”
    “Benar. Hutang-hutangnya sangat banyak pada kita.”
    “Kita harus menuntutnya.”
    “Ya. Kita harus menuntutnya.”
    Sekelompok orang melintasi jalan di depan rumah kakek nenek itu sambil membawa keranda. Keduanya mengintip dari lubang angin. Pintu dan jendela rumah mereka memang tidak terbuka.
    “Aku jadi iri,” kata si kakek.
    “Mengapa iri ? Bukankah harus disyukuri, bahwa tak akan ada lagi yang mengganggu kita....”


    “ Itu benar. Tapi melihat upacara kematiannya yang meriah....”
    “Ah, ia memang pantas untuk itu.”
    “Karena jasa-jasanya ?”
    “Betul. Karena jasa-jasanya. Tidak tertutup kemungkinan, ia akan diangkat menjadi pahlawan.”
    “Mungkin juga. Ia memang seorang yang gagah berani, komandan yang tak takut sedikit pun pada musuh yang ada di depannya, seorang konseptor dalam tata letak kota. Pokoknya, ia benar-benar seorang yang ahli. Arsitek.”
    “Hanya sayang, ia seorang pemabuk.”
    “Walau pemabuk, tak akan mampu menutupi dirinya menjadi seorang pahlawan.”
    “Barangkali. Tapi aneh juga....”
    “Aneh ? Apanya yang aneh ?”
    “Ia itu. Laki-laki itu baru dihargai justru ketika ia telah meninggal. Padahal semasa hidup, ia tidak diacuhkan orang.”
    “Ya. Mungkin itu sudah sifat kita, manusia.”
    “Tapi menurutku, ia lebih baik daripada dirimu....”
    Si kakek memandang ke arah si nenek yang kelepasan omongan. Tiba-tiba si nenek tersadar, tapi tak berusaha minta maaf.
    “Kau masih ingin mengajakku bertengkar ?” ujar si kakek tajam.
    “Aku hanya bicara kenyataan. Bayangkan saja, ia begitu jagonya di medan perang. Setelah negeri kita merdeka, dari kepalanya mengalir ide-ide cemerlang. Bukankah itu namanya hebat ? Jelas sekali berbeda jauh dengan dirimu bukan ?”
    “Cukup ! Rupanya kau benar-benar mengajakku untuk bertengkar. Dasar perempuan sial !”
    “Kau jangan mengejekku seperti itu ! Aku bicara kenyataan. Aku bicara sesuai dengan fakta. Lihat, ketika keluarganya dibantai habis, ia balik membantai. Bukankah itu jantan ? Bukankah berbeda denganmu yang justru lari terbirit-birit melihat musuh ?”
    “Cukup !” teriak si kakek sambil menampar mulut si nenek. Emosinya benar-benar tak dapat tertahankan lagi. Keduanya bertengkar hebat. Bergumul habis-habisan. Hingga akhirnya si kakek berhasil mencekik si nenek hingga mati.
    Si nenek benar-benar mati. Meninggal.
    Sosok mayat yang mengenaskan. Penuh luka dan darah. Tubuh yang penuh bilur-bilur biru.
    Sesaat kemudian, si kakek baru tersadar. Emosinya perlahan mereda. Si nenek, perempuan yang telah mendampinginya selama ini tak bernapas lagi. Si kakek pun menangis. Meratap secara tertahan.
    Di rumah walikota, upacara terus berlangsung. Tak ada yang memperhatikan suara ratapan si kakek yang telah mencekik sendiri istrinya.


    Hanya saja, seminggu kemudian orang-orang kembali gempar. Bau busuk yang teramat sangat menjadikan perhatian warga tertuju pada rumah tersebut. Beberapa warga kota menerobos masuk dengan menggunakan masker. Kota menjadi amat gempar dengan dua sosok mayat yang ditemukan dalam rumah.
    Seorang perempuan tua terkapar di lantai dengan tubuh membusuk, dan seorang laki-laki tua tergantung pada seutas tali.

****
TIDAK lama kemudian, di sekitar rumah tempat tinggal pemabuk dan rumah kakek nenek yang cukup luas itu dibangun sebuah taman. Rumah yang ada dirobohkan, diganti berbagai tanaman dan bunga yang indah-indah. Ramai tempat itu pada sore hari-hari libur.
    Dan memang demikian adanya. Karena tempat itu sejuk dan tenang.


Pekalongan, 2007

  

 
CERPEN 3



PEMBUNUHAN DI PAGI BUTA
Cerpen: Zulmasri


“AKU bunuh Kau!” teriaknya lantang. “Dengar! Sekali lagi dengar! Kau akan kubunuh!”
Suaranya bergema ke segenap arah di kamarku yang tak terlalu lebar. Ancamannya disertai pedang panjang yang mirip samurai, telah meluruhkan keinginanku untuk melabraknya dengan kata-kata. Bahkan sekarang justru sebaliknya yang terjadi. Nyaliku ciut dan ada rasa gentar yang muncul tiba-tiba.
Tetap saja aku berada di tempat tidur. Memandang tanpa kedip pada pedang dan dirinya yang tegak menantang dalam remang lampu lima watt. Masih terlalu pagi, karena kalau seperti hari biasanya, aku masih ngorok dan bercanda lewat mimpi-mimpi.
Tapi tendangannya tadi pada pintu benar-benar telah mencampakkan jauh-jauh rasa pulasku. Sebagai gantinya, mataku membelalak lebar dan mulutku menganga kaget bercampur heran dan takut. Apalagi mendengar kata-katanya yang benar-benar mengancam. Aku mengejat ketakutan. Keinginan untuk melabraknya – karena telah mengganggu tidur sekaligus hak asasiku – pupus seketika, karena justru ia-lah yang datang dengan berondongan labrakan sekaligus ancaman.
“Kau masih tetap berdiam di situ? Kau tak berusaha lari? Bagus! Bagus! Dengan begitu, aku lebih mudah membunuhmu! Membunuhmu!”
Suaranya kembali bergema. Apalagi setelah itu ia tertawa. Tawa yang tentu saja jelek bila situasinya normal. Tapi mana mungkin aku balik tertawa mendengar suaranya dalam keadaan tegang begini. Andai saja yang menginap di rumah ini ada orang lain selain aku, tentu akan lain suasananya. Andai saja ada rumah tetangga yang begitu rapat dengan tempat tinggalku, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Setidaknya aku aku tak perlu setakut ini, karena sebagaimana biasa aku selalu tenang dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan.
Tapi sekarang, mengapa aku begitu ketakutan? Apakah karena kilatan pedangnya yang datang dari pantulan cahaya lampu lima watt itu? Ataukah karena kesunyian yang amat mendera di sekelilingku? Tiba-tiba kusadari apa yang telah terjadi selama ini. Ketabahan dan ketenangan yang ada padaku dalam menghadapi setiap persoalan – dengan tanpa gentar sedikit pun – tak lain lantaran aku berada di antara orang banyak. Aku berani dan menggebu-gebu mempertaruhkan nyawa. Entah kenapa, sekali pun ada yang mengancamku dengan pisau terhunus di leher, aku tak pernah takut. Selalu kupatahkan keinginan hati orang yang mengancamku itu dengan kata-kata lembut namun menusuk. Dan biasanya, orang yang mengancamku itu selalu mundur dan mohon dimaafkan.
Tapi sekarang, sanggupkah aku mengatasinya dalam kesendirian begini? Dalam kesendirian dan sunyi yang sebentar-sebentar bergaung, mampukah aku seperti biasa menundukkannya?
Rasanya sulit. Menghentikan debaran gentar saja aku tak berani. Apalagi mesti membuka mulutku yang sepertinya terkunci dengan sangat rapat.Benar-benar aku dibuat kalut.
Ia melangkah kemudian ke arahku. Dua langkah saja. Tawanya yang jelek itu sudah lama berhenti. Sebagai gantinya, ia mempelototiku habis-habisan. Sorotan matanya yang merah terlihat samar. Kerut mukanya yang keras mengingatkanku pada seorang bintang film yang sering memerankan adegan-adegan sadis. Ditambah lagi dengan rambutnya yang awut-awutan dan pakaiannya yang dikenakan serampangan. Semua itu meninggalkan kesan padaku: angker!
Akankah aku dibunuhnya? Dari kata-katanya yang bernada ancaman, jelas itu bukan gombalan belaka. Dan bila itu benar-benar terjadi, apa yang mesti kuperbuat?
Dalam kalut dan sendiri begini, aku teringat segalanya. Keluarga, teman-teman, pacarku, pekerjaan, tingkah laku dan segala tindakan yang telah aku lakukan. Semua membayang dan membaur. Semuanya pun seakan ikut memojokkan. Dan itu kian menambah kekalutan yang ada di dada.
Sejenak kemudian, ruangan kamarku kembali bergalau oleh tawanya. Tawa yang jelek, tapi menakutkan. Dan tawanya itu kian meninggi dan meninggi. Sampai akhirnya ia diam kembali.
“Nikmatilah hidupmu yang hanya tinggal sesaat,” ujarnya pelan, namun tegas. “Karena sebentar lagi, pedang ini akan menghirup darah segarmu.”
Ia diam lagi. Namun hanya sesaat.
“Dan sebelum pedang ini menghirup darahmu, ada baiknya kujelaskan lebih dulu, kenapa pedang ini menginginkan dirimu.”
Ia berhenti lagi bicara. Kemudian melangkah satu langkah.
Pedangku ini menginginkan darahmu disebabkan tindakan yang telah kamu lakukan. Nah, sebelumnya Kau kuberi waktu untuk mengingat apa saja yang telah Kau perbuat, sehingga aku terpaksa membangunkanmu di pagi buta begini, hanya sekedar menjemput nyawamu....”
Ia kembali tertawa.
Dan aku sibuk mengingat apa yang telah aku perbuat, terutama tingkah laku dan tindakan yang telah aku lakukan. Rasanya wajar-wajar saja. Tak ada yang istimewa.
Memang harus kuakui, bahwa pekerjaanku sebagai wartawan senantiasa bergulat dengan berbagai permasalahan. Mulai dari dunia politik, pemerintahan, persoalan kemasyarakatan, persoalan korupsi, dan sebagainya. Bahkan pernah beberapa kali aku menulis tentang penyunatan uang yang datang dari pemerintah pusat ke daerah-daerah, di tengah jalan dipotong-potong dulu. Juga tentang bantuan kemalangan akibat longsor yang terjadi di sebuah daerah, tak sampai di tangan yang seharusnya menerima. Atau tentang kongkolikong para pejabat dalam menetapkan siapa pimpinan pemerintahan suatu daerah, yakni dengan sistem rekayasa. Pokoknya segala yang aku anggap tak wajar dan menyimpang. Itu kutulis dengan bahasa khas, dan sedikit berbau feature. Dan ternyata pimpinan redaksi memuji hasil kerjaku.
Lalu di antara sekian banyak liputanku, adakah salah satunya? Adakah berita yang kutulis berakibat pada ancaman pembunuhan terhadapku?
“Sudah bisakah Kau ingat apa tindakanmu yang merugikan dirimu sendiri?”
Suaranya bergema kembali di ruang kamarku. Suara yang dingin dan menusuk. Dengan segala keberanian yang aku punya, kugelengkan kepala.
“Goblok! Kau benar-benar goblok! Pantas.... Pantas Kau bisa berbuat seperti itu, bila mengingat kesalahan sendiri saja tidak becus!” makinya.
Aku tak menjawab.
“Ingatkah tulisan jelekmu tentang Pak RC? Kau ingatkah fitnah yang Kau sebarkan tentang perbuatannya? Kau ingat?”
Aku mengangguk-angguk kecil. Baru jelas apa tindakanku yang menurutnya salah. Dengan cepat aku melakukan analisis. Sudah tentu, ya, orang yang mengancamku ini anak buah Pak RC. Atau mungkin pembunuh bayaran yang disuruh Pak RC untuk menghabisi nyawaku.
Aku jadi membayangkan Pak RC, seorang direktur sebuah bank terkenal di kota ini. Kesalahan yang dibuatnya sungguh tak dapat kumaafkan. Naluri jurnalisku segera bekerja. Bahan-bahan yang kubutuhkan atas korupsi yang dilakukannya dengan mudah dapat kukumpulkan. Apalagi banyak kawan-kawanku yang membantu. Dalam hal ini termasuk teman dekatku, Karin, yang menjadi sekretarisnya. Selama hampir satu minggu beritanya menjadi headline pada surat kabar tempat aku bekerja. Untuk itu, pimpinan redaksi pun mempercayakan aku sebagai ketua tim peliputnya.
Tentu aku tak akan sebegitu gencarnya, bahkan boleh dikatakan sangat kejam menginformasikan kejelekan-kejelekan yang telah diperbuat Pak RC, seandainya Karin, gadis yang telah lama kutaksir, tak ikut dilibatkannya lebih jauh. Namun kenyataan saat Pak RC yang telah beristri itu mencoba menggoda Karin, telah mengubahku menjadi banteng liar. Kutelanjangi diri Pak RC sampai pada hal sekecil-kecilnya. Dalam hal ini, memang nama Karin termasuk kulindungi. Biarlah. Karena bagaimana pun aku tetap menyayanginya. Walau sejak kejadian memalukan itu aku dan Karin seolah ada jarak. Biarlah. Kupikir Karin sendiri telah menerima beban mental akibat perbuatannya yang tak semestinya dilakukan, berduaan di kamar hotel dengan Pak RC saat ada penggerebekan petugas kepolisian.
Suara deheman membuyarkan lamunanku. Kupandangi orang suruhan Pak RC yang berniat membunuhku itu.
“Rasanya sudah cukup aku memberi waktu!” katanya dingin. “Sekarang, bersiaplah untuk mati!”
Perlahan ia melangkah mendekati tempat tidurku. Aku mencoba bangkit, tapi lututku terasa goyah. Akhirnya aku hanya bisa beringsut mundur, sampai di sudut tempat tidur.
Tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Keadaan benar-benar tak menguntungkan. Menyesal aku, mengapa dulu tak belajar ilmu bela diri. Kini, ya , pembunuh itu kian mendekat dan mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Di luar masih gelap. Ada angin melintas di pintu yang tadi didobrak. Dari jauh terdengar kokok ayam jantan.
Dengan teriakan panjang, pembunuh itu menyabetkan pedangnya. Sebisanya aku usahakan mengelak dalam gigil ketakutan. Tapi pembunuh itu benar-benar buas. Mungkin hanya sampai di sini ajalku. Malaikat pencabut nyawa seperti menari-nari dalam pejaman mataku.
Dan sesaat aku merasakan cairan. Darah. Darah mengalir di tempat tidur, membasahi wajah dan pakaianku. Rasanya, aku seperti berhenti bernapas.
Tapi aku masih bisa menginat, ada suara tembakan kecil sebelumnya. Juga suara tubuh jatuh dan gemerincing suara pedang.
Dan kemudian ada suara memanggil namaku. Suara malaikatkah? Tapi, itu suara perempuan. Seperti suara Karin. Hah? Ilusikah ini?
Tapi aku sendiri, masih hidupkah? Lalu darah itu....
(Sesaat bau amis itu membuatku muntah dan menggelapkan pandangan).


Pekalongan, 2007





Posted by Zulmasri at 12:18:04 | Permanent Link | Comments (2) |

Monday, December 03, 2007

Ruang Info UN 2008

Ujian Nasional 2008 sudah di ambang mata. Berita yang dilansir dari situs BSNP menyebutkan, bahwa untuk tahun 2008 UN SMP akan berlangsung selama 4 hari. Berikut hal-hal berkaitan dengan UN 2008 untuk SMP (termasuk MTs)

JADWAL UJIAN
Senin, 8 Mei 2008 : Bahasa Indonesia (08.00-10.00). Jumlah soal: 50
Selasa, 9 Mei 2008 : Matematika (08.00-10.00). Jumlah soal: 40
Rabu, 10 Mei 2008 : Bahasa Inggris (08.00-10.00). Jumlah soal: 50
Kamis, 11 Mei 2008: IPA (08.00-10.00). Jumlah soal: 40

KELULUSAN UJIAN NASIONAL
1. Peserta UN dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN sebagai berikut:
a. memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 dan khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan Minimum 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; atau
b. memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00, dan khusu untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan minimum 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN .
2. Kabupaten/Kota dan atau satuan pendidikan dapat menentukan standar kelulusan UN lebih tinggi dari kriteria butir 1



STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UJIAN NASIONAL 2008 SMP/MTs
(SKL UN 2008)

BAHASA INDONESIA SMP/MTs

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)
1. MEMBACA
  • Membaca dan memahami berbagai ragam wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, table, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, novel dan drama·
  • Membaca dan memahami berbagai bentuk wacana tulis (artikel, berita, opini/tajuk, table, bagan, grafik, peta, denah) dan karya sastra puisi, cerpen, novel, drama, yang mencakup
- gagasan utama paragraf
- kritikan isi bacaan
- kesamaan informasi dari beberapa teks berita
- isi berita
- perbedaan penyajian beberapa teks berita
- fakta/pendapat, simpulan bacaan
- gagasan utama dan pendukung dalam tajuk
- fakta dalam tajuk
- keberpihakan penulis
- simpulan isi tajuk
- isi table, bagan, grafik, peta atau denah
- unsur instrinsik puisi
- unsur instrinsik cerpen
- unsur instrinsik novel
- unsur instrinsik drama

2. MENULIS
  • Menulis karangan nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk buku harian, surat resmi, surat pribadi, pesan singkat, laporan, petunjuk, rangkuman, slogan dan poster, iklan baris, teks pidato, karya ilmiah dan menyunting serta menulis karya sastra puisi dan drama·
  • Mengungkapkan pikiran, informasi, dan pengalaman dalam berbagai wacana tulis berupa
- buku harian
- surat pribadi
- surat resmi
- pesan singkat (memo)
- laporan
- petunjuk melakukan sesuatu
- rangkuman
- slogan/poster
- iklan baris
- teks pidato
- karya ilmiah
- pantun
- puisi
- drama
- Menyunting berbagai ragam teks berpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraph, dan kebulatan wacana.

BAHASA INGGRIS SMP/MTs
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)
1. MEMBACA
  • Membaca makna dalam wacana tertulis pendek baik teks fungsional maupun esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari·
  • Memahami makna teks tulis fungsional pendek seperti pesan pendek, pengumuman, kartu ucapan, label, iklan, brosur, surat pribadi dan lain-lain dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari dengan cara mengindentifikasi :
- gagasan utama (judul, tema, pokok pikiran)
- informasi rinci tersurat
- informasi tersirat
- rujukan kata
- makna kata, frasa dan kalimat (termasuk kosa kata, tata bahasa dan ciri kebahasaan lainnya yang terkait dengan jenis teks dan tema)

2. MENULIS
  • Mengungkapkan makna secara tertulis teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari·
  • Mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek seperti pesan pendek, pengumuman, kartu ucapan, label, iklan, brosur, surat pribadi dan lain-lain dan esei sederhana berbentuk deskriptif (descriptive, procedure dan report) dan naratif (narrative dan recount) dalam konteks kehidupan sehari-hari dengan cara
- Menyusun kata/kalimat acak menjadi kalimat/paragraph yang padu
- Melengkapi kalimat/paragraph/teks rumpang.



MATEMATIKA SMP/MTs


STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)
1. Memahami konsep operasi hitung dan sifat- sifat bilangan, perbandingan, aritmetika sosial, barisan bilangan, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.
- Bilangan
- Operasi hitung bilangan bulat
- Operasi hitung bilangan pecahan
- Perbandingan
- Aritmetika sosial
- Barisan bilangan
- Pola bilangan
- Rumus suku ke-n

2. Memahami operasi bentuk aljabar, konsep persamaan dan pertidaksamaan linear, persamaan garis, himpunan, relasi fungsi, system persamaan linear, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.
- Operasi bentuk aljabar
- Persamaan dan pertidaksamaan linear suatu variable
- Himpunan
- Himpunan bagian
- Irisan dan gabungan dua himpunan
- Diagram Venn
- Relasi dan fungsi
- Aturan pemetaan
- Nilai fungsi
- Grafik fungsi linier
- Sistem persamaan linear dua variable
- Gradien dan persamaan garis lurus

3. Memahami bangun datar, bangun ruang, garis sejajar, dan sudut, serta mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.
- Bagun datar (segitiga, segiempat dan lingkaran)
- Sifat-sifat
- Sudut
- Luas dan keliling
- Garis singgung lingkaran
- Teorama Pythagoras
- Kesebangunan
- Kongruensi
- Bangun ruang
- Unsur-unsur
- Model kerangka dan jarring-jaring
- Luas permukaan dan volume
- Garis sejajar
- Sifat-sifat dan besar sudut

4. Memahami konsep dalam statistika, serta mampu menerapkannya dalam pemecahan masalah.
- Statistika
- Tendensi sentral/ukuran pemusatan
- Menyajikan dan menafsirkan data


ILMU PENGETAHUAN ALAM SMP/MTs

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)
1. Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
· Besaran dan satuan
· Pengukuran

2. Menerapkan konsep zat dan kalor serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Wujud zat
· Massa jenis
· Pemuaian
· Kalor dan perpindahan kalor

3. Mendeskripsikan dasar-dasar mekanika (gerak, gaya usaha dan energi) serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Gerak lurus, gaya dan percepatan
· Tekanan pada benda padat, cair dan gas
· Perubahan bentuk energi
· Usaha dan energi
· Pesawat sederhana

4. Memahami konsep-konsep dan penerapan getaran, gelombang, bunyi dan optik dalam produk teknologi sehari-hari.
· Getaran dan gelombang
· Bunyi
· Optik geometri (cahaya)
· Alat-alat optik

5. Memahami konsep kelistrikan dan kemagnetan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Listrik statis
· Listrik dinamis
· Energi dan daya listrik
· Kemagnetan
· Induksi elektromagnetik

6. Memahami system tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya.
· Sistem dan tata surya
· Matahari sebagai bintang
· Gerakan bumi (rotasi dan revolusi)
· Gerhana, pasang naik dan pasang surut

7. Mendeskripsikan cirri-ciri dan keanekaragaman makhluk hidup, komponen ekosistem serta interaksi antar makhluk hidup dalam lingkungan, pentingnya pelestarian makhluk hidup dalam kehidupan.
· Ciri-ciri makhluk hidup
· Pengelompokan makhluk hidup
· Keragaman pada tingkat organisasi kehidupan
· Keanekaragaman makhluk hidup dan upaya pelestariannya
· Komponen ekosistem, peran dan interaksinya
· Pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan
· Hubungan antara kepadatan populasi manusia dengan lingkungan.

8. Mengkaitkan hubungan antara struktur dan fungsi jaringan/organ-organ pada tumbuhan dan manusia.
• Sistem gerak pada manusia
• Sistem pencernaan pada manusia
• Sistem pernapasan pada manusia
• Sistem peredaran darah pada manusia
• Sistem ekskresi pada manusia
• Sitem saraf pada manusia
• Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan
• Macam-macam gerak pada tumbuhan
• Proses perolehan nutrisi pada tumbuhan

9. Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup dan pewarisan sifat pada organisme serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.
• Pertumbuhan dan perkembangan
• Kelangsungan hidup organisme
• Cara-cara reproduksi
• Teknologi reproduksi, hubungannya dengan lingkungan dan masyarakat

10. Mengindentifikasi bahan kimia alami dan buatan yang terdapat dalam bahan makanan dan pengaruhnya terhadap kesehatan.
• Bahan kimia dalam bahan makanan
• Zat aditif dan psikotropika



Posted by Zulmasri at 12:51:25 | Permanent Link | Comments (0) |

Sunday, June 03, 2007

Ruang Diri

Z u l m a s r i

Dari sebuah dusun terpencil saat malam hujan dan petir sambar-menyambar, saya menghirup napas dunia. Bapak saya mencatat kelahiran saya pada pukul 20.00 tanggal 11 Januari 1971, bertepatan dengan bulan Zulhijah. Oleh karena itu, di bagian awal nama saya ada tiga huruf nama bulan Hijriyah itu.

Saya tidak tahu persis, apa makna nama saya berikutnya. Ada yang mengaitkan nama itu dengan negara Mesir. Namun saya pikir-pikir, agaknya tidak ada kaitannya dengan negara sungai Nil itu.

Zulmasri. Demikian nama yang diberikan orang tua saya.

Bapak saya seorang petani. Malam harinya menjadi guru ngaji. Murid Bapak dulu lumayan banyak. Bapak mengajar ngaji sangatlah “galak”. Biasanya orang tua yang ingin anaknya diajar ngaji plus salat oleh Bapak, sebelumnya menyerahkan sepenuhnya untuk dididik. Penyerahan si anak biasanya disertai dengan sepotong rotan kecil atau satu ikatan kecil lidi. Penyerahan lidi atau rotan adalah simbol yang dalam kenyataannya dilaksanakan sebagai bentuk pendidikan yang penuh disiplin. Artinya, kalau ada pelanggaran atau kesalahan dari si anak, pihak orang tua merelakan anaknya untuk dirotan atau dilecut dengan lidi.

Setelah selesai ngajar ngaji, biasanya Bapak suka bercerita. Cerita berbagai hikayat atau cerita-cerita misteri.

Bapak meninggal saat saya berusia 10 tahun.

Sementara ibu, yang biasanya saya panggil emak, adalah perempuan yang luar biasa. Setiap mengenang ibu, saya sering berkaca-kaca atau menangis. Lantunan Iwan Fals lewat lagu “Ibu” begitu menyentuh dalam diri saya.

Saya bahagia karena lahir dari keluarga yang mengutamakan ‘pendidikan untuk masa depan’, sehingga sesulit apa pun keadaan ekonomi keluarga, semua saudara-saudara saya bisa bersekolah.

Berkecimpung di penulisan sudah saya mulai dengan menjadi penulis di Koran Masuk Sekolah, sebuah koran kecil, suplemen Harian Singgalang Padang. Tulisan pertama saya berupa berita kecil tentang kegiatan sekolah, saya tulis saat duduk di bangku kelas III SMP.

Sejak saat itu kegiatan menulis saya tumbuh subur. Berbagai lahan seperti puisi, cerpen, kritik, resensi, esai, dan sebagainya saya tulis. Tulisan-tulisan saya dimuat antara lain di Harian Singgalang, Haluan, Semangat (Padang), Swadesi, Republika, Aneka, Ceria, Anita Cemerlang, Annida (Jakarta), Teruna Baru (Medan), Riau Pos (Pekanbaru), Suara Merdeka (Semarang), Gerbang (Yogyakarta), dan Berita Harian (Kualalumpur).

Beberapa puisi yang saya tulis juga menang dalam beberapa lomba dan dibukukan dalam beberapa antologi. Lengkapnya adalah: Taraju 93 (1993), Sahayun (1994), Hawa 29 Penyair (1994), Poeitika (1995), dan Antologi Puisi Indonesia (1997).

Saat ini jadi pengajar dan pembina jurnalistik, yakni di SMP Negeri 2 Talun (lihat http://sekitarkita.blog.com), SMA Negeri 1 Pekalongan (lihat http:sman1pekalongan.sch.id ), dan SMA Al-Irsyad Pekalongan. Alamat email: mastermasri @ yahoo.co.id) Selain itu saya juga ngeblog, ya blog ini dan menjadi pengurus MGMP SMP Kabupaten Pekalongan (lihat http://mgmpkabpkl.blog.com) dengan email: mgmp_bipkl@yahoo.co.id )

Posted by Zulmasri at 14:59:04 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday, May 28, 2007

Ruang Puisi

Catatan Lelah dari Kota-kota Singgah

 

Pagi di Sarga (1)

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po semalam mengalun dalam embun

berbaur bansi dan setangkai mawar

yang dititipkan di gemericik air kaki gunung

menambah mimpi resah dan gelisah

pada usia yang kian menua

kuterhenti di sarga

harum rambutnya membingkai hari-hari

dalam igauan dan rutinitas sunyi

:adakah yang tersisa dari hujan dan gerimis

selain amis dan tangis ?

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po berbaur hujan di petak-petak sawah

membawa tiga anak kecil – eka, veni, ica

berpantun akan kota yang berubah

menyandang tas, berangkat ke sekolah

pagi itu kutiba di sarga

:kubakar li-po dan membayangkan syair berdarah di cina

Pekalongan, 2003

*) li-po: penyair Cina klasik

Pagi di Sarga (2)

menyusun kata, menyerap makna menguap

kita bingkai cerita dan kisah menyebalkan

di ujung mimpi dan sepi. kubangun kembali

istana diri pada rasa percaya yang pernah raib

dan pagi ini

kukenang perjalanan dari sarga ke padang panjang

kubayangkan persinggahan hamka sejak dari sungai batang

kuingat lagi dirimu: gadis baju kurung dan selendang

bertutur cerita warisan perantau

yang enggan berbagi lahan garapan

pagi di sarga dengan perjalanan lelah

kujelang usia di diri yang kerap gelisah

Pekalongan, 2003

Pagi di Sarga (3)

melepas penat di kelelahan memberat

subuh menyapa lewat tetesan embun di lengang fajar

ada dedaunan gugur – berserakan; ada genangan air

di halaman. sisa hujan semalam meluruhkan dendam

di wanginya pagi

masih remang; cahaya enggan memintal duka

di keriuhan burung-burung. pesta semalam

hanya meninggalkan lelah panjang

di mabuk pikiran. sementara hidup menjadi permainan

yang berakhir di ujung belati

di sarga masih teramat pagi

kubunuh dendam di belantara masa lalu

dengan langkah lelah mengaji

ke kota santri

Pekalongan, 2003

*) Sarga = Sarang Gagak (sebuah kampung di kawasan kelurahan Andalas Padang)

Kurindukan Sarga di Pagi Hari

mengenangmu lagi di gerimis musim ini

adalah keindahan yang lena di ruang sunyi

ketika lelap kita tanpa jaga

ketika mimpi berbuah kenangan

kucumbui angan di riangnya suasana

kalau saja kau tuliskan cerita

dan berkisah sarang burung tempua

tentulah kurindu kepulangan

ke sarga di pagi hari

melenakan diri di lelahnya pelangi

kurindukan sarga di pagi hari

saat eka dan ica berangkat sekolah

saat veni bernyanyi rerumputan padi

akankah sunyi bercerita lagi

ketika kau tahu kisah yang lain

dari diri yang terjepit beton dan tiang yang tinggi?

kurindukan sarga di pagi hari

saat kupulang kerja dan jam memalu lima kali

cerita semalam telah menjadi headline

dan membangunkanmu dari kekacauan yang terjadi

di hari ini kurindukan lagi

ke sarga di pagi subuh

ketika kota yang kusinggah dilanda rusuh

Jakarta, Des 1996-Feb 1997


Catatan yang Tak Pernah Selesai

dan akhirnya adalah kejenuhan

rutinitas kerja yang itu ke itu saja

(sementara kau masih bertanya tentang tangis

tentang hujan, embun, dan cahaya bulan di riak danau)

meski kau tahu

hari-hari begitu banyak berubah

tak pernah kubermimpi dan berharap darimu

meski kumengerti, kau bukan yang dulu

polusi membuatmu mabuk, dan jam hanyalah

detakan waktu yang tak pernah selesai

(masihkah kau setia menyimpan surat-surat

yang pernah kukirimkan?)

walau kutahu, kau tak pernah butuh itu

menjalani hari-hari panjang, tak pernah

kuingin damba yang muluk

tentang cinta atau rumah tangga yang

kelak kita bangun

sebab kita percaya cuaca

yang senantiasa berubah

dan di antara kenyataan yang kita temukan

tiada satu pun yang dapat mengobati luka

di sepanjang rasa jenuh dari rutinitas kerja

Sungai Limau, Feb 1994


Izinkan Kuistirah di Hatimu

izinkan kuistirah di hatimu

ketika lelahku bermain angan

perjalanan semestinya tak lagi impian

kota-kota telah meninggalkan catatan asing

di cuaca yang muram

masa berlalu seiring desau angin yang menderu

izinkan kuistirah di hatimu

dalam relung sunyinya kamar

sebab kebeningan selalu menyertai

setiap denyut nafas yang merindui

izinkan kuistirah di hatimu

mencari damai yang tak bermakna ganda

di guguran daun dan patahan ranting

kucumbui angan yang lama terpisah

izinkan kuistirah di hatimu

merajut merahnya benang hati

Pekalongan, Juli 1997

Padang, Agustus 1997

Jalan Pulang

jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama

masih menyimpan jejak dalam bias

sepanjang pematang dan derai daun padi

kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan

:adakah kau simpan rindu

saat ketuk membangunkanmu di subuh

yang lelah di kepulangan kerja?

di sepanjang jalan pulang itu

telah kucatat kejadian sebagai headline

di halaman-halaman surat kabar

membangunkan impianmu ke kenyataan

yang kita temui di rutinitas hari ini

:tentang pembunuhan, berita kriminal

catatan hari-hari yang lepas

dan kemacetan berbuah depresi

andai kusampai di rumah, masihkah setia

kau dengan apa yang akan kusampaikan?

kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu

di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas

membinarkan hidup di kesunyian diri

:masihkah detik jam mempertemukan kita

dalam renjana masa lalu?

meski kutahu ada yang telah tiada

saat jalan pulang penuh rerimba

Padang, Des 1996

Kepergian

suatu ketika aku akan katakana padamu:

“selamat tinggal….”

walau mungkin tanpa iringmu, tidak ada

lambai itu

tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh

perpisahan yang menakutkan, kadang

adalah keberuntungan; (kau masih percaya bukan?)

pertemuan-pertemuan kita selama ini

telah membawa kita kembali ke persimpangan

tanpa bias memilih jalan yang mesti dilalui

“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu

di kesendirian pada jalan yang memang lengang

masihkah engkau kan tulikan telinga

ketika kau tahu, itu ucapanku yang terakhir?

barangkali ini hanyalah arogansi yang

kau pamerkan. sebab kutahu: matamu masih

menyimpan cahaya rindu

akankah dustamu kembali mewarnai hari-hari

yang tak lagi berlari?

Sungai Limau, Maret 1994

Padang, April 1994

Kepulangan

akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai

matahari mungkin telah senja, sementara mendung

masih berkabar duka

dan dalam kereta yang membawaku, angina memukul-mukul

dari jendela; hingga kumenggigil kedinginan

musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti

panas yang kau nyalakan telah lama padam. aku kembali

menjalani kekalahan untuk kesekian kalinya

kepulangan; aku mengerti juga

kotamu terlalu sulit dimengerti

barangkali bukan untukku. terlalu banyak

keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasakan

terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata aneh

aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad

biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu

karena barangkali benar:

kotamu bukanlah untukku!

Sungai Limau, Juni 1994

Ketika Suatu Kali dalam Hujan

ketika suatu kali dalam hujan kita bercerita

ada mendung di matamu, kutahu itu

senja telah membuat kita larut

dan di kafe, es kelapa muda telah lama kita habiskan

dalam deru hujan kita sama menanti

entah apa; sesuatu yang tak pasti, barangkali

kita tak saling bicara, meski kita sama menginginkannya

dan mata kita senantiasa meninggalkan bayangan-bayangan

ketakutan, (atau mungkin ketidakpastian)

di luar masih hujan, desember yang lembab

dan murung. kita mendengar ada bisik-bisik

sepasang kekasih bicara dalam remang

mesra sekali. tiba-tiba kumerasa cemburu

suara musik itu; ah, mengapa kita jadi seperti ini

sama memanjakan diri dalam kekerasan hati

kita terbentur kata, meski dalam hati kita menggerutu

kafe tua; “menyebalkan!” umpatmu

hujan itu masih menjadikan kita terbelenggu

kita telah coba menyelami makna

tapi kita sama mengerti, perjalanan masih jauh

tanpa tahu, di mana perhentiannya

Padang, Desember 199


Posted by Zulmasri at 17:53:01 | Permanent Link | Comments (1) |

Ruang Esai

KEBIMBANGAN PENGARANG

DAN PENDEKATAN EKSPRESIF

I

ADApenafsiran, bahwa Marah Rusli menulis Sitti Nurbaya (terbit 1912) pada mulanya bukanlah dengan ambisinya yang ingin menjadi novelis. Ia hanya tidak dapat menemukan jalan lain untuk memprotes tradisionalisme "yang tidak sehat" pada zamannya. Tapi kemudian dalam Salah Asuhan, Abdul Muis mengingatkan bahwa protes terhadap tradisionalisme "yang tidak sehat" itu tidak akan membawa apa-apa, kecuali malapetaka. Penolakan adat-istiadat dan model pendidikan tradisional telah membawa tokoh Hanafi pada posisi dilematis yang tidak berujung, kecuali dengan perpisahan yang mengenaskan. Paraahli sastra pun dengan jitu dapat melihat sisi menarik dari dua konsep yang ditonjolkan, dimana Abdul Muis sebenarnya telah membuka sebuah perdebatan yang amat penting sehubungan dengan konsep dan keinginan kita, walaupun lewat karya sastra. Tidak mengherankan bila kemudian Goenawan Mohamad (1988: 56-57) menyatakan sebagai arah berpikir yang penuh kebimbangan. Artinya, secara tidak langsung pertumbuhan kesusastraan Indonesiasebenarnya dipenuhi oleh kebimbangan-kebimbangan.

Kenyataan ini lebih dipertegas lagi dengan polemik kebudayaan oleh kelompok Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane. Polemik kebudayaan yang membicarakan tentang arah kebudayaan Indonesia itu meliputi kurun waktu 1935-1936, yang selain dua tokoh di atas juga melibatkan Dr. Poerbatjaraka, Dr. Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Dr. M. Amir, dan Ki Hadjar Dewantara (Achdiat Karta Mihardja, 1977). Anehnya, permasalahan ini kembali menghangat tahun 1986, dengan menampilkan tokoh yang jauh lebih muda dibanding dengan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai pencetusnya. Mereka itu di antaranya Umar Kayam, Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, Soebagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, Taufik Abdullah, Andre Hardjana, Sapardi Djoko Damono, Arief Budiman, Asrul Sani, Daoed Joesoef, dan Sutardji Calzoum Bachri (lihat Horison, Juli 1986). Kenyataan ini menunjukkan, bahwa bagaimanapun arah kebudayaan yang tercetus tahun 1935 itu tetap hangat sebagai sebuah pembicaraan yang tidak akan usang-usangnya. Hal ini terbukti di awal tahun 2000-an pembicaraan ini kembali menghangat.

Berbagai perdebatan – kebudayaan atau pun kesusastraan – sampai sekarang tetap marak. Karya sastra pun tetap lahir. Namun di balik semua itu, berbagai kebimbangan pun menebar, malah kadang sulit terdeteksi. Kebimbangan itu tidak hanya sekedar konsep untuk teks karangan itu sendiri, tetapi juga prinsip dari seorang pengarang dalam berkarya. Berbagai peristiwa sastra dan budaya seperti pengadilan puisi tahun 1974, polemik atas tuduhan plagiat puisi Chairil Anwar dan kasus Hamka tahun 1950-an, perang ideologi dan media tahun 1950-an hingga orde baru, pengadilan cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin (1968), perdebatan sastra kontekstual (1986), berbagai pengadilan karya sastra dan riak-riak kecil perdebatan dan polemik kesusastraan di Semarang, Jakarta, Padang, Bandung, dan Surabaya sampai pada persoalan puisi gelap (1994).

Adanya perdebatan kesusastraan sebagai implikasi dari kebimbangan sikap itu akan lebih menarik bila dilihat dari sisi pengarangnya sebagai orang yang bertanggung jawab di dalamnya. Tulisan ini mencoba melihat sisi pengarang yang pada akhirnya dihubungkan dengan pendekatan ekspresif dalam memahami dan menilai sebuah karya yang dihasilkan.

II

JIKA masing-masing pengarang kita tanyakan apa tujuan atau motivasi dari kepengarangannya, maka berbagai jawaban pun akan terkumpul. Boleh jadi kepengarangannya lantaran ingin mengungkapkan ekspresi, karena bakat, keinginan untuk terkenal, sebagai profesi, dan sebagainya. Tapi jujurkah jawaban yang mereka ungkapkan? Lebih jauh, jujurkah mereka dalam gerak lajunya untuk memperoleh titel pengarang "yang benar-benar sukses"?

Berbagai kejadian di dunia kepengarangan, khususnya dalam kasus plagiat karya pengarang yang telah "mapan" tidak hanya sekali dua kali kita dengar. Kelabilan para (calon) pengarang terkadang tidak segan-segannya berbuat sesuatu yang sebenarnya merusak namanya sendiri. Pada dasarnya, mereka menginginkan kesejajaran dengan pengarang yang telah "sukses" terlebih dahulu dengan bersusah payah. Kelabilan bersikap, kelabilan berkarya, dan kelabilan dalam memahami dunia yang tengah ditekuninya, merupakan di antara penyebab kegoncangan dunia sastra. Kasus Chairil Anwar yang memplagiat sajah Hsu Chih-Mok, Song of the Sea, menjadi Datang Dara Hilang Dara, adalah salah satu contohnya. Kelabilan Chairil itu pada akhirnya tidak bisa diterima saja, misalnya menyebutnya terpengaruh (Jassin, 1985: 57). Kelabilannya merupakan kelabilan konsep dalam kepenyairannya.

Menjadi seorang pengarang memang bukan pekerjaan yang mudah. Walaupun begitu, pekerjaan mengarang tidak pula sesuatu yang mengerikan. Konsistensi dalam mengarang bisa menjadikannya kaya, terutama di bidang pengetahuan yang didalami. Seorang pengarang termashur menurut Jassin (1985:11) kebanyakan mempunyai ilmu yang tidak langsung bersangkutan dengan pekerjaannya sebagai pengarang. Banyak di antara mereka yang seharusnya bisa mencapai dan memakai titel sarjana dan doktor, tapi tidak memakai titel itu. Memang bukan dalam titel letaknya kebesaran dan kebahagiaan pengarang, melainkan masak atau tidaknya buah ciptaannya.

Tentu akan menjadi tiada berarti bila pengarang hanya sibuk sendiri tanpa melihat dan mengikutsertakan masyarakatnya. Bisa jadi puisi dan novelnya – yang mungkin penting – tidak akan dibaca. Kritik karya yang yang penuh rayuan gombal jalan sendiri dan masyarakat merasa tidak membutuhkannya. Kebimbangan pengarang bisa menjadi tidak terkendali. Kritik sastra yang diberlakukan berubah menjadi psikoanalisis, dan akhirnya gosip. Goenawan Mohammad (dalam Horison, Januari 1986) menyebut situasi yang terjadi di pihaak pengaran adalah gosip-gosipan, dimana ia berubah menjadi tokoh publik.

III

SECARA umum, Abrams (dalam Teeuw, 1984:50) mengemukakan empat pendekatan dalam melihat karya sastra. Salah satu pendekatan itu adalah penekanan pada pengarangnya. Pendekatan ini lebih dikenal sebagai pendekatan ekspresif.

Penekanan aspek ekspresif karya sastra telah lama dimulai. Pada masa Yunani dan Romawi penonjolan aspek ekspresif karya sastra telah dimulai seorang ahli sastra Yunani Kuno, Dionysius Casius Longius, dalam bukunya On the Sublime (Mana Sikana, dalam Atmazaki, 1990: 32-33). Menurut Longius karya sastra harus mempunyai gayabahasa yang baik, mempunyai falsafah, pemikiran, dan persoalan agung yang penting, harus mempunyai emosi yang intens dan terpelihara serta tahan menghadapi zaman. Kenyataan ini menyebabkan pengarang mesti punya konsep yang jelas dan jauh dari kebimbangan-kebimbangan yang melanda dirinya.

Bila kemudian Plato mengungkapkan bahwa karya sastra adalah meniru dan meneladani ciptaan Tuhan, cukupkah sampai di situ peran seoraang pengarang? Ternyata Aristoteles menolak pendapat yang menyatakan bahwa posisi pengarang hanya berada di bawah Tuhan. Menurutnya, ciptaan Tuhan