Ruang Puisi
Catatan Lelah dari Kota-kota Singgah
Pagi di Sarga (1)
pagi itu kutiba di sarga
nyanyian li-po semalam mengalun dalam embun
berbaur bansi dan setangkai mawar
yang dititipkan di gemericik air kaki gunung
menambah mimpi resah dan gelisah
pada usia yang kian menua
kuterhenti di sarga
harum rambutnya membingkai hari-hari
dalam igauan dan rutinitas sunyi
:adakah yang tersisa dari hujan dan gerimis
selain amis dan tangis ?
pagi itu kutiba di sarga
nyanyian li-po berbaur hujan di petak-petak sawah
membawa tiga anak kecil – eka, veni, ica
berpantun akan kota yang berubah
menyandang tas, berangkat ke sekolah
pagi itu kutiba di sarga
:kubakar li-po dan membayangkan syair berdarah di cina
Pekalongan, 2003
*) li-po: penyair Cina klasik
Pagi di Sarga (2)
menyusun kata, menyerap makna menguap
kita bingkai cerita dan kisah menyebalkan
di ujung mimpi dan sepi. kubangun kembali
istana diri pada rasa percaya yang pernah raib
dan pagi ini
kukenang perjalanan dari sarga ke padang panjang
kubayangkan persinggahan hamka sejak dari sungai batang
kuingat lagi dirimu: gadis baju kurung dan selendang
bertutur cerita warisan perantau
yang enggan berbagi lahan garapan
pagi di sarga dengan perjalanan lelah
kujelang usia di diri yang kerap gelisah
Pekalongan, 2003
Pagi di Sarga (3)
melepas penat di kelelahan memberat
subuh menyapa lewat tetesan embun di lengang fajar
ada dedaunan gugur – berserakan; ada genangan air
di halaman. sisa hujan semalam meluruhkan dendam
di wanginya pagi
masih remang; cahaya enggan memintal duka
di keriuhan burung-burung. pesta semalam
hanya meninggalkan lelah panjang
di mabuk pikiran. sementara hidup menjadi permainan
yang berakhir di ujung belati
di sarga masih teramat pagi
kubunuh dendam di belantara masa lalu
dengan langkah lelah mengaji
ke kota santri
Pekalongan, 2003
*) Sarga = Sarang Gagak (sebuah kampung di kawasan kelurahan Andalas Padang)
Kurindukan Sarga di Pagi Hari
mengenangmu lagi di gerimis musim ini
adalah keindahan yang lena di ruang sunyi
ketika lelap kita tanpa jaga
ketika mimpi berbuah kenangan
kucumbui angan di riangnya suasana
kalau saja kau tuliskan cerita
dan berkisah sarang burung tempua
tentulah kurindu kepulangan
ke sarga di pagi hari
melenakan diri di lelahnya pelangi
kurindukan sarga di pagi hari
saat eka dan ica berangkat sekolah
saat veni bernyanyi rerumputan padi
akankah sunyi bercerita lagi
ketika kau tahu kisah yang lain
dari diri yang terjepit beton dan tiang yang tinggi?
kurindukan sarga di pagi hari
saat kupulang kerja dan jam memalu lima kali
cerita semalam telah menjadi headline
dan membangunkanmu dari kekacauan yang terjadi
di hari ini kurindukan lagi
ke sarga di pagi subuh
ketika kota yang kusinggah dilanda rusuh
Jakarta, Des 1996-Feb 1997
Catatan yang Tak Pernah Selesai
dan akhirnya adalah kejenuhan
rutinitas kerja yang itu ke itu saja
(sementara kau masih bertanya tentang tangis
tentang hujan, embun, dan cahaya bulan di riak danau)
meski kau tahu
hari-hari begitu banyak berubah
tak pernah kubermimpi dan berharap darimu
meski kumengerti, kau bukan yang dulu
polusi membuatmu mabuk, dan jam hanyalah
detakan waktu yang tak pernah selesai
(masihkah kau setia menyimpan surat-surat
yang pernah kukirimkan?)
walau kutahu, kau tak pernah butuh itu
menjalani hari-hari panjang, tak pernah
kuingin damba yang muluk
tentang cinta atau rumah tangga yang
kelak kita bangun
sebab kita percaya cuaca
yang senantiasa berubah
dan di antara kenyataan yang kita temukan
tiada satu pun yang dapat mengobati luka
di sepanjang rasa jenuh dari rutinitas kerja
Sungai Limau, Feb 1994
Izinkan Kuistirah di Hatimu
izinkan kuistirah di hatimu
ketika lelahku bermain angan
perjalanan semestinya tak lagi impian
kota-kota telah meninggalkan catatan asing
di cuaca yang muram
masa berlalu seiring desau angin yang menderu
izinkan kuistirah di hatimu
dalam relung sunyinya kamar
sebab kebeningan selalu menyertai
setiap denyut nafas yang merindui
izinkan kuistirah di hatimu
mencari damai yang tak bermakna ganda
di guguran daun dan patahan ranting
kucumbui angan yang lama terpisah
izinkan kuistirah di hatimu
merajut merahnya benang hati
Pekalongan, Juli 1997
Padang, Agustus 1997
Jalan Pulang
jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama
masih menyimpan jejak dalam bias
sepanjang pematang dan derai daun padi
kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan
:adakah kau simpan rindu
saat ketuk membangunkanmu di subuh
yang lelah di kepulangan kerja?
di sepanjang jalan pulang itu
telah kucatat kejadian sebagai headline
di halaman-halaman surat kabar
membangunkan impianmu ke kenyataan
yang kita temui di rutinitas hari ini
:tentang pembunuhan, berita kriminal
catatan hari-hari yang lepas
dan kemacetan berbuah depresi
andai kusampai di rumah, masihkah setia
kau dengan apa yang akan kusampaikan?
kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu
di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas
membinarkan hidup di kesunyian diri
:masihkah detik jam mempertemukan kita
dalam renjana masa lalu?
meski kutahu ada yang telah tiada
saat jalan pulang penuh rerimba
Padang, Des 1996
Kepergian
suatu ketika aku akan katakana padamu:
“selamat tinggal….”
walau mungkin tanpa iringmu, tidak ada
lambai itu
tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh
perpisahan yang menakutkan, kadang
adalah keberuntungan; (kau masih percaya bukan?)
pertemuan-pertemuan kita selama ini
telah membawa kita kembali ke persimpangan
tanpa bias memilih jalan yang mesti dilalui
“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu
di kesendirian pada jalan yang memang lengang
masihkah engkau kan tulikan telinga
ketika kau tahu, itu ucapanku yang terakhir?
barangkali ini hanyalah arogansi yang
kau pamerkan. sebab kutahu: matamu masih
menyimpan cahaya rindu
akankah dustamu kembali mewarnai hari-hari
yang tak lagi berlari?
Sungai Limau, Maret 1994
Padang, April 1994
Kepulangan
akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai
matahari mungkin telah senja, sementara mendung
masih berkabar duka
dan dalam kereta yang membawaku, angina memukul-mukul
dari jendela; hingga kumenggigil kedinginan
musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti
panas yang kau nyalakan telah lama padam. aku kembali
menjalani kekalahan untuk kesekian kalinya
kepulangan; aku mengerti juga
kotamu terlalu sulit dimengerti
barangkali bukan untukku. terlalu banyak
keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasakan
terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata aneh
aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad
biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu
karena barangkali benar:
kotamu bukanlah untukku!
Sungai Limau, Juni 1994
Ketika Suatu Kali dalam Hujan
ketika suatu kali dalam hujan kita bercerita
ada mendung di matamu, kutahu itu
senja telah membuat kita larut
dan di kafe, es kelapa muda telah lama kita habiskan
dalam deru hujan kita sama menanti
entah apa; sesuatu yang tak pasti, barangkali
kita tak saling bicara, meski kita sama menginginkannya
dan mata kita senantiasa meninggalkan bayangan-bayangan
ketakutan, (atau mungkin ketidakpastian)
di luar masih hujan, desember yang lembab
dan murung. kita mendengar ada bisik-bisik
sepasang kekasih bicara dalam remang
mesra sekali. tiba-tiba kumerasa cemburu
suara musik itu; ah, mengapa kita jadi seperti ini
sama memanjakan diri dalam kekerasan hati
kita terbentur kata, meski dalam hati kita menggerutu
kafe tua; “menyebalkan!” umpatmu
hujan itu masih menjadikan kita terbelenggu
kita telah coba menyelami makna
tapi kita sama mengerti, perjalanan masih jauh
tanpa tahu, di mana perhentiannya
Padang, Desember 199

