Senin, May 28, 2007

Ruang Puisi

Catatan Lelah dari Kota-kota Singgah

 

Pagi di Sarga (1)

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po semalam mengalun dalam embun

berbaur bansi dan setangkai mawar

yang dititipkan di gemericik air kaki gunung

menambah mimpi resah dan gelisah

pada usia yang kian menua

kuterhenti di sarga

harum rambutnya membingkai hari-hari

dalam igauan dan rutinitas sunyi

:adakah yang tersisa dari hujan dan gerimis

selain amis dan tangis ?

pagi itu kutiba di sarga

nyanyian li-po berbaur hujan di petak-petak sawah

membawa tiga anak kecil – eka, veni, ica

berpantun akan kota yang berubah

menyandang tas, berangkat ke sekolah

pagi itu kutiba di sarga

:kubakar li-po dan membayangkan syair berdarah di cina

Pekalongan, 2003

*) li-po: penyair Cina klasik

Pagi di Sarga (2)

menyusun kata, menyerap makna menguap

kita bingkai cerita dan kisah menyebalkan

di ujung mimpi dan sepi. kubangun kembali

istana diri pada rasa percaya yang pernah raib

dan pagi ini

kukenang perjalanan dari sarga ke padang panjang

kubayangkan persinggahan hamka sejak dari sungai batang

kuingat lagi dirimu: gadis baju kurung dan selendang

bertutur cerita warisan perantau

yang enggan berbagi lahan garapan

pagi di sarga dengan perjalanan lelah

kujelang usia di diri yang kerap gelisah

Pekalongan, 2003

Pagi di Sarga (3)

melepas penat di kelelahan memberat

subuh menyapa lewat tetesan embun di lengang fajar

ada dedaunan gugur – berserakan; ada genangan air

di halaman. sisa hujan semalam meluruhkan dendam

di wanginya pagi

masih remang; cahaya enggan memintal duka

di keriuhan burung-burung. pesta semalam

hanya meninggalkan lelah panjang

di mabuk pikiran. sementara hidup menjadi permainan

yang berakhir di ujung belati

di sarga masih teramat pagi

kubunuh dendam di belantara masa lalu

dengan langkah lelah mengaji

ke kota santri

Pekalongan, 2003

*) Sarga = Sarang Gagak (sebuah kampung di kawasan kelurahan Andalas Padang)

Kurindukan Sarga di Pagi Hari

mengenangmu lagi di gerimis musim ini

adalah keindahan yang lena di ruang sunyi

ketika lelap kita tanpa jaga

ketika mimpi berbuah kenangan

kucumbui angan di riangnya suasana

kalau saja kau tuliskan cerita

dan berkisah sarang burung tempua

tentulah kurindu kepulangan

ke sarga di pagi hari

melenakan diri di lelahnya pelangi

kurindukan sarga di pagi hari

saat eka dan ica berangkat sekolah

saat veni bernyanyi rerumputan padi

akankah sunyi bercerita lagi

ketika kau tahu kisah yang lain

dari diri yang terjepit beton dan tiang yang tinggi?

kurindukan sarga di pagi hari

saat kupulang kerja dan jam memalu lima kali

cerita semalam telah menjadi headline

dan membangunkanmu dari kekacauan yang terjadi

di hari ini kurindukan lagi

ke sarga di pagi subuh

ketika kota yang kusinggah dilanda rusuh

Jakarta, Des 1996-Feb 1997


Catatan yang Tak Pernah Selesai

dan akhirnya adalah kejenuhan

rutinitas kerja yang itu ke itu saja

(sementara kau masih bertanya tentang tangis

tentang hujan, embun, dan cahaya bulan di riak danau)

meski kau tahu

hari-hari begitu banyak berubah

tak pernah kubermimpi dan berharap darimu

meski kumengerti, kau bukan yang dulu

polusi membuatmu mabuk, dan jam hanyalah

detakan waktu yang tak pernah selesai

(masihkah kau setia menyimpan surat-surat

yang pernah kukirimkan?)

walau kutahu, kau tak pernah butuh itu

menjalani hari-hari panjang, tak pernah

kuingin damba yang muluk

tentang cinta atau rumah tangga yang

kelak kita bangun

sebab kita percaya cuaca

yang senantiasa berubah

dan di antara kenyataan yang kita temukan

tiada satu pun yang dapat mengobati luka

di sepanjang rasa jenuh dari rutinitas kerja

Sungai Limau, Feb 1994


Izinkan Kuistirah di Hatimu

izinkan kuistirah di hatimu

ketika lelahku bermain angan

perjalanan semestinya tak lagi impian

kota-kota telah meninggalkan catatan asing

di cuaca yang muram

masa berlalu seiring desau angin yang menderu

izinkan kuistirah di hatimu

dalam relung sunyinya kamar

sebab kebeningan selalu menyertai

setiap denyut nafas yang merindui

izinkan kuistirah di hatimu

mencari damai yang tak bermakna ganda

di guguran daun dan patahan ranting

kucumbui angan yang lama terpisah

izinkan kuistirah di hatimu

merajut merahnya benang hati

Pekalongan, Juli 1997

Padang, Agustus 1997

Jalan Pulang

jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama

masih menyimpan jejak dalam bias

sepanjang pematang dan derai daun padi

kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan

:adakah kau simpan rindu

saat ketuk membangunkanmu di subuh

yang lelah di kepulangan kerja?

di sepanjang jalan pulang itu

telah kucatat kejadian sebagai headline

di halaman-halaman surat kabar

membangunkan impianmu ke kenyataan

yang kita temui di rutinitas hari ini

:tentang pembunuhan, berita kriminal

catatan hari-hari yang lepas

dan kemacetan berbuah depresi

andai kusampai di rumah, masihkah setia

kau dengan apa yang akan kusampaikan?

kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu

di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas

membinarkan hidup di kesunyian diri

:masihkah detik jam mempertemukan kita

dalam renjana masa lalu?

meski kutahu ada yang telah tiada

saat jalan pulang penuh rerimba

Padang, Des 1996

Kepergian

suatu ketika aku akan katakana padamu:

“selamat tinggal….”

walau mungkin tanpa iringmu, tidak ada

lambai itu

tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh

perpisahan yang menakutkan, kadang

adalah keberuntungan; (kau masih percaya bukan?)

pertemuan-pertemuan kita selama ini

telah membawa kita kembali ke persimpangan

tanpa bias memilih jalan yang mesti dilalui

“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu

di kesendirian pada jalan yang memang lengang

masihkah engkau kan tulikan telinga

ketika kau tahu, itu ucapanku yang terakhir?

barangkali ini hanyalah arogansi yang

kau pamerkan. sebab kutahu: matamu masih

menyimpan cahaya rindu

akankah dustamu kembali mewarnai hari-hari

yang tak lagi berlari?

Sungai Limau, Maret 1994

Padang, April 1994

Kepulangan

akhirnya aku pulang juga, meski kembara belum selesai

matahari mungkin telah senja, sementara mendung

masih berkabar duka

dan dalam kereta yang membawaku, angina memukul-mukul

dari jendela; hingga kumenggigil kedinginan

musim penghujan, mantel ini seperti tak berarti

panas yang kau nyalakan telah lama padam. aku kembali

menjalani kekalahan untuk kesekian kalinya

kepulangan; aku mengerti juga

kotamu terlalu sulit dimengerti

barangkali bukan untukku. terlalu banyak

keasingan demi keasingan yang belum pernah kurasakan

terlalu banyak basa-basi dan pancaran mata aneh

aku tak mengerti rumus, tak mengerti abjad

biarkan kupulang ke tempat kelahiranku, tanpamu

karena barangkali benar:

kotamu bukanlah untukku!

Sungai Limau, Juni 1994

Ketika Suatu Kali dalam Hujan

ketika suatu kali dalam hujan kita bercerita

ada mendung di matamu, kutahu itu

senja telah membuat kita larut

dan di kafe, es kelapa muda telah lama kita habiskan

dalam deru hujan kita sama menanti

entah apa; sesuatu yang tak pasti, barangkali

kita tak saling bicara, meski kita sama menginginkannya

dan mata kita senantiasa meninggalkan bayangan-bayangan

ketakutan, (atau mungkin ketidakpastian)

di luar masih hujan, desember yang lembab

dan murung. kita mendengar ada bisik-bisik

sepasang kekasih bicara dalam remang

mesra sekali. tiba-tiba kumerasa cemburu

suara musik itu; ah, mengapa kita jadi seperti ini

sama memanjakan diri dalam kekerasan hati

kita terbentur kata, meski dalam hati kita menggerutu

kafe tua; “menyebalkan!” umpatmu

hujan itu masih menjadikan kita terbelenggu

kita telah coba menyelami makna

tapi kita sama mengerti, perjalanan masih jauh

tanpa tahu, di mana perhentiannya

Padang, Desember 199


Posted by Zulmasri at 17:53:01 | Permanent Link | Comments (1) |
Komentar
1 - assalamu'alaikum... wah..aku kagum sama Bapak..terutama tulisan2 Bapak. bikin ngiri saja.he... terus terang aku ingin sekali bisa menulis banyak tulisan seperti Bapak : Cerpen, Puisi, Esai,dll. Dulu aku sering sekali nulis puisi, sampai2 hampir satu buku.pernah juga nulis cerpen. yah..meski cuma satu cerpen.tapi sekarang sudah jarang sekali. nggak tau kenapa, jarang dapet inspirasi. aku mau nanya,gimana ya, Pak, biar sering dapat inspirasi? hehe..komentar sekalian konsultasi..klo mau njawab, tolong kirim aja ke muqaffa_alsada@yahoo.co.id ya, Pak.. terima kasih. wassalamu'alaikum.. -Wieda Muqaffa- (Comment this)

Ditulis oleh: Anonymous at 2007/06/10 - 12:53:02
Tulis komentar